SAMBUT
TAHUN BARU 2015 TANPA MA’SIAT
Tidak
terasa, sebentar lagi kita akan berpisah dengan tahun 2014 dan kita sambut
tahun baru 2015. Begitu cepat perjalanan waktu dalam kehidupan kita. Bila kita
masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk hidup didunia ini, maka berarti
kita masih diberi kesempatan untuk menambah dan memperbanyak bekal untuk hidup
dalam suatu kehidupan yang kekal abadi di negeri akhirat nanti. Oleh karena
itulah, maka sudah seharusnya tahun baru 2015, kita sambut dengan rasa syukur
sebagai bukti ketaqwaan , yang selanjutnya mesti kita hindari kemaksiatan agar
kita dijauhkan dari bala dan bencana. Kita sambut tahun 2015 dengan taqwa.
Taqwa
adalah bekal seorang hamba ketika ia menghadap kepada Sang Pencipta, bekal yang
kelak menjadi hujah baginya di hadapan Tuhannya, bahwa kehidupannya dialam
dunia telah dipergunakan sebaik-baiknya. Untuk itulah wahai kaum Muslimin
sekalian, marilah kita perbaiki dan satukan niat serta tekad, untuk meraih
predikat golongan mahluk Allah yang muttaqin yang selalu meninggalkan apa-apa
yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, untuk dapat mengambil apa-apa yang telah
dijanjikan, berupa kehidupan yang baik
di dunia dan Surga yang abadi kelak di akhirat.
“Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Al-baqarah:
197). “Sesungguhnya orang-orang bertaqwa itu berada dalam Surga (taman-taman) dan (didekat) mata air-mata air yang mengalir”. (Al-Hijr: 45).
Allah ciptakan mahluk dan Allah sertakan bersama mereka nabi-nabi dan
rasul-rasul sebagai utusan yang menerangkan dan menjelaskan konsep tatanan
hidup selama berada di alam yang serba cepat dan fana ini, Allah turunkan pula
kitab-kitab-Nyabersama para utusan-utusan itu, sebagai aturan main di dalam
dunia, baik hubungan sesama mahluk, lebih-lebih hubungan mahluk dengan
penciptanya. Di antara kitab-kitab yang Allah turunkan ialah Al-Qur'an,
mu’jizat nabi mulia yang menjelaskan tuntunan Allah, aturan terakhir penutup
para nabi dan rasul.
“Sesungguhnya kami telah pengutusmu (muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan”. (Al-Baqarah: 119).
Allah turunkan Al-Qur’an untuk menyelesaikan masalah-masalah di antara mereka
dan juga untuk mengingatkan mereka akan yaumul mii’aad yaitu hari pembalasan
terhadap apa-apa yang telah dilakukan oleh para penghuni alam dunia.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.
(An-Nalh: 44).
Akan tetapi di balik semua itu, realita yang terjadi, kita sering dan teramat
sering dikejutkan dan dibuat prihatin dengan musibah yang acap kali menimpa
negeri ini. Masih terngiang ditelinga kita peristiwa gempa bumi yang terjadi
beberapa waktu yang lalu, yang memakan korban manusia dan memaksa mengungsi
dari tempat-tempat mereka, banjir yang berulang kali terjadi di beberapa
tempat, padahal baru kemarin kita merasakan beratnya kemarau panjang, gunung di
beberapa tempat sudah mulai aktif dan memuntahkan isi kandungannya, huru-hara
terjadi diberbagai kota diiringi hancurnya tempat-tempat tinggal dan
pusat-pusat keramaian dengan kobaran api yang melalap baik materi maupun
sosok-sosok jiwa sebagai pelengkapnya, pembantaian yang telah dan terus
berlangsung secara biadab terjadi di beberapa tempat dan entah berapa tempat
lagi yang akan terjadi di belahan negeri ini, busung lapar anak manusia negeri
ini sering kita dengar meskipun katanya kita berada di negeri subur nan tropis,
dengan disusul jatuhnya nilai rupiah yang mengakibatkan krisis moneter yang
berdampak kemiskinan, pengangguran dan kelaparan masih saja kita rasakan,
penyakit-pernyakit aneh dan kotor mulai merebak dan meng-gerogoti penduduk
negeri ini dan berbagai musibah yang telah menghadang di hadapan mata, termasuk
di dalam hancurnya generasi-generasi muda penerus bangsa ini disebabkan
terha-nyut dan tenggelam bersama obat-obat setan yang terlarang.
Apakah adzab telah mengintai negeri ini, sebagaimana yang tersurat di dalam
Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 25, kaum Nuh yang Allah tenggelamkan
dikarenakan mendustakan seorang rasul, atau kaum Tsamud yang disebabkan tak
beriman, membusungkan dada dan menantang datangnya adzab, Allah jadikan mereka
mayat-mayat yang bergelimpangan dengan gempa yang mengguncang mereka, atau
seperti kaum Luth yang dikarenakan perzinaan sesama jenis, homosexsual, Allah
hujani mereka dengan batu, atau seperti kaum Madyan yang Allah jadikan mereka
mayat-mayat yang bergelimpangan disebabkan curang dalam takaran dan timbangan
serta membuat kerusakan dimuka bumi dan menghalangi orang untuk beriman, atau
seperti kaum ‘Aad yang disebabkan tidak memurnikan tauhid dan bersujud
kepadaNya, Allah kirim kepada mereka angin yang sangat panas yang memusnahkan
mereka.
Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluh lantahkan disebabkan satu dua
kemungkaran yang dikepalai kesyirikan, sekarang bagaiman dengan kita, apa yang
kita saksikan dan alami sekarang ini, apa yang terjadi ditempat kita,
lingkungan kita, dikota kita, dan bahkan di seantero negeri kita?, maksiat
terjadi dimana-mana, pergaulan lawan jenis dan perzinaan yang keluar dari
norma-norma agama semakin menggila, ditambah lagi media-media masa visual dan
non-visual ikut melengkapi ajang syaitan ini dengan dalih seni dan hak-hak
manusia, padahal Allah dan RasulNya telah jelas-jelas mengharamkan hal
tersebut. Firman Allah.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk” (Al-Isra’: 32).
Dan dalam sebuah hadits shahih Rasul bersabda:
مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ
لُوْطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ.
“Barangsiapa di antara kalian yang menemui mereka yang
melakukan perbuatan kaum Luth (homosexsual) maka bunuhlah kedua pelakunya”.
(riwayat Abu dawud dan At-Tirmidzi).
Kemana hak Allah dan RasulNya?. Kecurangan dalam perniagaan yang terjadi pada
kaum Madyan pun terjadi sekarang, kecurangan bukan hanya curang dalam timbangan
secara zhahir, tetapi penindasan, tipu muslihat, sampai kepada sogok menyogok
dan riba pun seakan suatu yang harus dilakukan, kemana firman Allah:
Dan Rasulpun melaknat orang yang menyogok dan yang disogok, sebagaimana hadis
shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Imam
Ahmad.
Berbagai bentuk perjudian pun digelar, pembunuhan yang tanpa memperhitungkan
nilai kemanusiaan dan agama pun terus terjadi silih berganti, padahal Rasul
Shalallaahu alaihi wasalam telah memperingatkan untuk meninggalkan tujuh hal
yang menghancurkan.
اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قِيْلَ:
يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ
الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَالسِّحْرُ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ
مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ
الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ.
Yang artinya: “Jauhilah tujuh hal yang menghancurkan
(membina-sakan)”. Bertanya para sahabat, apa itu yang Rasulullah?, bersabda
beliau: “Syirik (menyekutukan Allah), membunuh jiwa yang Allah haramkan,
kecuali yang dibenarkan syari’at, sihir (tenung dan santet), memakan riba,
memakan (menyelewengkan) harta anak yatim, lari dari pertempuran (karena
takut), menuduh wanita baik-baik berzina”. (Ash-Shahihain).
Akan tetapi semua ini berlaku, perbuatan syirik yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah telah menjadi sesuatu kebutuhan, berapa banyak kita dapati media masa yang menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan syirik dengan membungkus sedemikian rupa untuk menipu umat, dan kini mereka telah menancapkan kaki-kaki mereka.
Segala sesuatunya kini telah terbalik, yang hak dikatakan dan dianggap batil, yang batil dipertahankan, dan tidak malu-malu di hadapan yang hak.
Siapakah yang bertanggung jawab akan hal ini?, yang jelas kita semua bertanggung jawab, kita sebagai umara’, ulama maupun pribadi-pribadi muslim.“Jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 96).
Islam adalah satu-satunya ajaran yang menjamin ketenteraman dan kesejahteraan hidup, tidak saja di dunia, tetapi bahkan di akhirat, sebab ajaran ini adalah ajaran dari Dzat yang maha memberikan jaminan bagi kebutuhan insan
Akan tetapi semua ini berlaku, perbuatan syirik yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah telah menjadi sesuatu kebutuhan, berapa banyak kita dapati media masa yang menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan syirik dengan membungkus sedemikian rupa untuk menipu umat, dan kini mereka telah menancapkan kaki-kaki mereka.
Segala sesuatunya kini telah terbalik, yang hak dikatakan dan dianggap batil, yang batil dipertahankan, dan tidak malu-malu di hadapan yang hak.
Siapakah yang bertanggung jawab akan hal ini?, yang jelas kita semua bertanggung jawab, kita sebagai umara’, ulama maupun pribadi-pribadi muslim.“Jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 96).
Islam adalah satu-satunya ajaran yang menjamin ketenteraman dan kesejahteraan hidup, tidak saja di dunia, tetapi bahkan di akhirat, sebab ajaran ini adalah ajaran dari Dzat yang maha memberikan jaminan bagi kebutuhan insan
Untuk menyelamatkan negeri dan umat ini tidak lain adalah kita kembali memurnikan dan menegakkan ajaran Allah pencipta kita, ketika umat semakin jauh dari ajarannya semakin gencar pula azab yang akan diterima dan ditimpahkan, oleh karena itu ada baiknya kita menilik kembali perkataan Syaikh Ali
Ø
Tercampurnya ajaran yang bukan dari Islam dengan
ajaran Islam.
Ø
Lemahnya kepercayaan orang akan apa yang menjadi
ajaran Islam.
Ø
Tidak adanya pengamalan (penerapan) terhadap
hukum-hukum Islam.
Semoga Allah s.w.t. senantiasa membimbing kita di tahun
2015, sehingga kita akan semakin bertaqwa dan berhati-hati agar tidak
terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa yang akan mengundang murka Allah s.w.t .
Mari kita wujudkan kehidupan masyarakat bertaqwa yang diliputi barokah dari Allah s.w.t..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar